Sewaktu sekolah, ada begitu banyak motivator yang memotivasi saya dan ribuan remaja lainnya dengan narasi, “Jangan takut gagal! Drop out sekalipun jangan takut! Bill Gates dan Mark Zuckerberg aja DO kok!”, dan tentu saja, saya dan ribuan remaja yang mendengar narasi tersebut jadi termotivasi biar gak takut gagal. Dalam artian, jika harus drop out dari kampus saat kuliah, gak usah takut gagal.



Sepuluh tahun setelahnya, saya jadi sadar, Bill Gates dan Mark Zuckerberg memang DO, tapi DO dari Harvard University! Bukan dari universitas antah berantah seperti yang saya dan jutaan orang lakoni di dunia ini! Pasalnya, Harvard University adalah salah satu kampus terbaik di dunia. Kampus Ivy League! Yang artinya, kecerdasan Bill Gates dan Mark Zuckerberg sudah di atas rata-rata jutaan orang medioker lainnya di dunia ini.

Kasarnya, kuliah satu semester di Harvard University bobotnya setara dengan bobot perkuliahan delapan semester di kampus antah berantah. Pasalnya disana kan tempat berkumpulnya orang-orang terbaik dalam bidangnya masing-masing untuk kuliah. Pola pikir mereka beda dengan mayoritas orang lainnya di dunia ini.

Dalam skala lokal, salah satu tokoh penting Indonesia, Sujiwo Tejo dikenal banyak orang karena merupakan praktisi drop out saat kuliah seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg. Ada tapinya nih. Sujiwo Tejo memang DO saat kuliah, tapi Sujiwo Tejo DO dari Institut Teknologi Bandung! Dari dua jurusan yang berbeda pula, yakni matematika dan teknik sipil ITB lho! Bukan dari PTS abal-abal yang kampusnya aja nyewa di ruko! Dalam artian, sedari awal kecerdasan Sujiwo Tejo sudah pasti di atas rata-rata jutaan orang Indonesia, karena ia bisa masuk ITB! Saya saja gagal tiga kali buat masuk ITB!

Memang, berkuliah di kampus antah berantah tidak menjadikan seseorang lebih bodoh dibandingkan dengan seseorang yang berkuliah di kampus bonafit macam ITB atau Harvard University, pasalnya ada ribuan alumni kampus anttah berantah yang sukses juga kok!

Tapi realistis saja, tokoh penting dunia macam Bill Gates, Albert Einstein, Stephen Hawking, Elon Musk, hingga Nikola Tesla aja berkuliah di kampus-kampus bonafit, kampus-kampus Ivy League. Dalam skala lokal, sebagian besar pengusaha, artis dan politikus Indonesia pun lulusan kampus-kampus bonafit seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Gadjah Mada dan kampus bonafit lainnya.

Artinya, semua tokoh yang saya sebutkan memang keceradasannya di atas rata-rata karena mampu lolos tes masuk kampus-kampus tersebut. Selain itu, mereka-mereka yang DO dari kampus bonafit tersebut pun punya alasan yang jelas kenapa mereka harus DO. Punya visi dan misi yang jelas tentang apa yang harus mereka lakukan setelah memutuskan untuk DO. Mereka DO bukan karena tidak mampu mengikuti kegiatan perkuliahannya, tapi karena mereka pingin fokus mengembangkan visi misi mereka yang tidak bisa mereka kembangkan jika terus berkuliah di kampusnya masing-masing.

Selama ini, orang-orang selalu termakan mentah-mentah dengan narasi, “Kalau mau sukses jangan kuliah” yang dikampanyekan orang-orang seperti Almarhum Bob Sadino. Sama seperti Sujiwo Tejo atau Bill Gates, Bob Sadino DOnya juga dari Universitas Indonesia yang masuknya aja susah banget! Selain itu Almarhum Bob Sadino juga punya alasan serta visi misi yang jelas kenapa ia harus DO, gak sekadar ikut-ikutan doang apalagi untuk gaya-gayaan. Lagian kalau kalian baca biografi Bob Sadino, kalian akan tahu bahwa beliau punya privilege yang sangat banyak, makanya berani untuk DO, tidak seperti kita-kita yang tidak dianugerai privilege yang banyak.

Jadi ya mau lanjut kuliah atau DO, ya itu terserah pada masing-masing orang. Tapi ya kalau mau DO kayak Bill Gates, Mark Zuckerberg, Sujiwo Tejo atau Bob Sadino itu harus mikir dulu, mereka itu DOnya juga dari kampus bonafit yang artinya sedari awal kecerdasan mereka sudah di atas rata-rata, kan masuknya aja susah banget. Selain itu, mereka DO juga karena mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Punya visi misi yang jelas, gak asal DO. Mereka juga bukan DO karena otaknya gak kuat mengikuti pelajarannya.